Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Tuesday, 16 December 2014

Raja-Ku

wahai rajaku,
tangguhkan hukuman mati untukku
agar dapat kukembalikan cintaMU
duhai padukaku,
andaikan tuli telingaku menghalangiMU
andaikan butaku mengesalkanMU
biarlah telingaku dan mataku jadi milikMU
tuhanku,
KAUlah rajaku, KAUlah padukaku
biarkan cintaku tumbuh untukMU

By : y3dips

tak berubah

malam ini tak ada yang berubah
Bulan tetap indah meski terlihat setengah
hening, hanya bintang yang menyapa dengan cahaya
tak berubah

malam ini tetap kurindui dirimu
seperti milyaran detik yang telah berlalu
rindu yang tetap tak terobati oleh bayangmu
tak berubah

Putri-ku

Sekilas bayangmu mengusik rinduku
menjemput teriak gemuruh jantungku
tak lelah kembali kupandangi
jejak yang kau tinggalkan dihatiku
tergurat senyuman manis yang kau lepaskan
yang selalu siap mengurungku
mendekapku dan membawanya ke alam mimpi
indah, tak pernah seindah tawamu
parasmu tak pernah terbangkan pandangku
gerakmu tak pernah luput pancing senyumku
berharga, tak lebih berharga darimu

Putri, maukah sejenak kau bagi lelahmu
tumpahkan gurat ceritamu ke buku hatiku
putri, maukah kau injakkan kakimu ke cintaku
menetaplah disana selamanya
agar bisa kulepaskan gundahku

Putri, maukah kau sejenak berikan senyummu
agar cerah dunia hari ini
putri, jadilah putriku........

By : y3dips

DOSA

Baru saja aku dari sana,
baru sebentar tadi,
baru sedetik yang lalu,..
goresan itu masih ada
walau hitamnya mulai memudar
tetapi goresan itu masih terasa
tak mengilang ...
tetap disana ...

Perempuan, saudara kandung laki laki

Ibu Hawa di ciptakan dari tulang rusuk

tulang rusuk itu berada di tengah badan

dan di bawah tangan

tidak berada dikepala dan tidak berada di kaki

Maksudnya perempuan tidak diciptakan

untuk melangkahi batas kelelakian,

dan tidak juga untuk di injak dan di perbudak

Tetapi untuk di lindungi dan di rengkuh

untuk bersama menuju Kebahagiaan

Terpenjara


Siapakah diriku yang tak tahu maksudku
terjebak di ruangan hampa penuh tanya
tertatih ikuti seberkas sinar yang tergambar dimataku
coba meraih putih yang terbaur diantara kelam jiwaku

siapakah engkau yang tarik tanganku dan mematok langkahku
kekang yang kaubalutkan di sekujur tubuhku mengurungku
Jeruji peraturan yang sengaja kau tancapkan mengelilingiku seolah
kau adalah padukaku

Tak pernah kuberani kepakkan sayapku dan terbang masuki inginku
seakan inilah hukuman terberat yang harus kutanggung dihidupku
kelak, kan kutunggu angin bawa pergi gundahku
hingga kupatahkan smeua belenggu
Engkau bukanlah raja diraja, Engkau sama sepertiku

Katakan Padaku


Dan katakan padaku seperti apa cinta yang kau maksud
apakah seperti sinar mentari yang mengalir tanpa henti
ataukah seperti air yang mengalir mengikuti arusnya
mungkin seperti bintang yang hanya berani keluar dimalam hari

Tolong katakan padaku seperti apa cinta yang kau maksud
apakah seperti tumbuhan yang akan berbuah kemudian layu dan mati
ataukah seperti angin yang berhembus tak tentu
mungkinkah seperti lukisan abstrak yang kulihat dipameran

Ayolah katakan padaku cinta yang kau maksud
apakah..ataukah..mungkin

cinta itu hampa, tapi kitalah yang mengisinya
cinta itu putih dan kitalah yang mewarnainya
cinta itu suci dan kitalah yang mengotorinya
cinta itu cengeng kitalah yang menguatkannya

jadi apabila tak ada kita apakah cinta tetap ada?

Friday, 12 December 2014

Puisi Kahlil Gibran

"...pabila cinta memanggilmu...
ikutilah dia walau jalannya berliku-liku...
Dan, pabila sayapnya merangkummu...
pasrahlah serta menyerah,
walau pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..."
(Kahlil Gibran)

"Tubuh mempunyai keinginan yang tidak kita ketahui.
Mereka dipisahkan karena alasan duniawi dan dipisahkan di ujung bumi.
Namun jiwa tetap ada di tangan cinta...
terus hidup...
sampai kematian datang dan menyeret mereka kepada Tuhan..."
(Kahlil Gibran)

"Jangan menangis, Kekasihku...
Janganlah menangis dan berbahagialah,
karena kita diikat bersama dalam cinta.
Hanya dengan cinta yang indah...
kita dapat bertahan terhadap derita kemiskinan,
pahitnya kesedihan, dan duka perpisahan"
(Kahlil Gibran)

Mother (Ibu)

Ibu, ceritakan padaku kisah tentang kejadianku
biar berlaku segala runtunan doamu padaku
lekat dan berbalur abadi di relung ragaku
semoga tak habis habisnya kebaikan mengalir padamu

Ibu, jangan kau akhiri rentetan ceritamu
masih belum sempat kurekam semua ucapanmu
masih kutandai waktu saat raut wajah bergarismu menarikan kata
masih ingin kulukis senyummu di otakku

Ibu, kala rindu memelukku
tak ada sejuk tatapan matamu
tak ada wangimu yang legakan hatiku
tak ada hangat belaian menerpa seluruh rambutku

Ibu, tak pernah tercetus keluhan di bibirmu
walau aku selalu penatkan harimu
walau aku selalu julurkan permasalahan buatmu
walau aku terkadang hadirkan kebohongan padamu

Ibu, engkaulah hadiah terindah Pencipta untukku
terimalah penghormatan dariku yang tak tahu bagaimana menghormatmu
terimalah haturan doa yang tak sebanding dengan belaianmu
semoga Tuhan menjagamu di fananya "dunia" dan di kekalnya "akhirat"

By. y3d1ps

Bidadari yang Menjelma

Tak perduli berapa jumlah kata yang tersebar di dunia

tak terbayang ribuan bahasa yang di gunakan untuk perantara

tapi tak satupun yang bisa gambarkan semua perasaan tentangmu saat ini

Mungkin Tuhan terlalu hati hati menciptakanmu

mungkin Tuhan telah ubah semua cinta ke wujudmu


Keegoisan CINTA

Cinta , seegois namanya
Tak perduli kau mau atau tidak
Cinta akan memaksamu untuk ikut dengannya
Tak perduli kau cukup tegar atau tidak
Cinta akan meninggalkanmu dengan sejuta perih

Cinta , seegois namanya
Tak perduli kau siap atau tidak

Devil and Angel

Devil

life`s rolling like a giant wheel
this is s**k when u get so numb
its feel like in hell
u just stuck in a little hole

Kumpulan Sajak Abdurahman Faiz

Kata Pengantar Taufiq Ismail

BU PRESIDEN, AKU JANGAN DIPENJARA, YA
Kumpulan sajak ini, Untuk Bunda dan Dunia, sungguh unik, karena
pengarangnya, Abdurahman Faiz, berumur 8 tahun. Dia lahir di Jakarta, 15
November 1995. Ibunya, Helvy Tiana Rosa adalah pengarang, dan ayahnya,
Tomi Satryatomo, wartawan. Faktor genetik dan lingkungan kepenulisan
dengan budaya membaca di rumah, secara dini telah membentuk Faiz.

Sebelum menguasai aksara, cara bicara Faiz saja, karena puitiknya, sudah
menggemaskan orangtuanya. Di tahun 1998, dia mengatakan pada mamanya,
"Bunda, aku mencintai bunda seperti aku mencintai surga." Waktu itu Faiz